Jadi Sentra Ternak Jangkrik

KECAMATAN Cangkuang, Kab. Bandung termasuk salah satu sentra budi daya ternak jangkrik. Sedikitnya 100 peternak jangkrik yang ada di wilayah tersebut sudah menjalankan roda usahanya sejak setahun lalu. Produksi jangkrik yang dihasilkan pun bervariasi, bergantung tingkat kemampuan mereka. Mulai dari 30 – 100 kg dalam satu kali panen dengan usia jangkrik antara 25-30 hari.

Dua orang peternak jangkrik, Dikdik Kuswendi dan Amin Suparmin, warga Kp./Desa/ Kec. Cangkuang mengatakan, mereka menekuni usaha tersebut semula hanya untuk coba-coba guna mencari pendapatan sampingan. “Tapi ada juga yang mulai fokus pada usaha budi daya tersebut guna memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari, karena mereka tidak memiliki pekerjaan lain,” kata Dikdik kepada “GM”, Senin (22/9).

Usaha ternak jangkrik, lanjut Dikdik, awalnya dilakukan atas masukan pihak lain di luar kecamatan. Bahkan mereka menjanjikan akan membantu para peternak untuk memasarkan hasil produksinya ke sejumlah produsen jangkrik di wilayah Bandung dan sekitarnya. “Menurut mereka, jangkrik selain dapat digunakan untuk pakan ternak burung berkicau, juga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Yaitu untuk bahan baku kecantikan, pakan ikan, dan bahan baku lainnya,” katanya.

Hanya kenyataannya setelah para peternak melakukan panen jangkrik, keluhnya, belum ada yang menyalurkan produksinya ke sejumlah produsen untuk bahan kecantikan, makanan, obat (farmasi), dan kebutuhan lainnya. Selama ini mereka hanya memenuhi kebutuhan pakan ternak burung. Mereka memasarkannya sendiri kepada para pedagang atau penggemar burung di Bandung, Garut dan sekitarnya, juga Pasar Sukahaji Bandung sebagai pusat berbagai macam kebutuhan yang berkaitan dengan hobi burung.

“Namun saat ini harga jualnya fluktuatif. Ketika barangnya lagi susah/kurang, harganya bisa mencapai Rp 45.000/kg seperti dua pekan lalu. Namun ketika lagi membanjir, hanya mampu terjual Rp 20.000 seperti sekarang ini. Padahal, harga normalnya Rp 30.000,” tutur Dikdik.

Sewaktu harga anjlok pada kisaran Rp 20.000, para peternak pun kesulitan memasarkannya. Saat ini pasokan jangkrik lagi membanjir setelah adanya kiriman dari wilayah Jawa Tengah. “Seperti sekarang, para peternak kesulitan memasarkan jangkrik. Padahal, saat ini sudah waktunya panen,” ujarnya.

Dikatakannya, pasokan jangkrik dari wilayah timur, otomatis akan merugikan para peternak setempat. Sebab semakin tua usia jangkrik akan semakin cepat juga kematiannya. Ia menuturkan, jangkrik bisa bertahan di usia antara dua hingga tiga bulan. Lebih dari itu tidak kuat.

Dijelaskannya, untuk proses budi daya jangkrik selain harus menyediakan boks dengan ukuran yang disesuaikan, peternak juga harus menyediakan bibit sebanyak satu ons dengan harga Rp 50.000. Bibit yang ditanam pada sebuah kotak tersebut, ketika panen bisa menghasilkan 7-8 kg/kotak. Tapi jika bibitnya bagus, bisa mencapai 12 kg. Sementara untuk perawatannya membutuhkan pakan layer sebanyak 10 kg.

Di tempat sama, Amin Suparmin mengatakan, proses pembibitan jangkrik saat ini mengalami penurunan yang cukup signifikan karena pengaruh cuaca panas. “Sebab semakin panas cuaca, banyak telur yang tidak menetas. Tapi itu juga bergantung perawatan,” katanya.

Ia menjelaskan, setiap 3 kg induk jangkrik bisa menghasilkan 3 ons benih jangkrik (1.350 ekor/kg). Setiap indukan bisa mencapai 9 kali pembibitan. Tapi rata-ratanya antara 4-5 kali bertelur. Mereka mengharapkan perhatian dari pemerintah karena beternak jangkrik pun cukup menguntungkan.

Dikembangkan

Kades Ciluncat, H.A. Barna mengatakan, pihaknya sedang mengembangkan berbagai bentuk pemberdayaan ekonomi kemasyarakatan setempat. Seperti budi daya jangkrik, kambing, dan itik.

Menurutnya, budi daya yang mereka kembangkan sudah melewati proses uji coba, baik secara hasil maupun keuntungan ekonomi. Karena sudah teruji, berbagai bentuk budi daya yang dikembangkan akan memfasilitasi warga untuk mencari tambahan modal.

“Tapi sementara ini kami berusaha untuk memanfaatkan dana pribadi yang mencapai Rp 6 juta-Rp 7 juta. Sedangkan dana bantuan pemerintah yang dikucurkan melalui pemerintahan desa, semuanya diserahkan langsung kepada warga. Dengan harapan, uang itu bisa dikelola langsung oleh masyarakat,” kata Barna.

Budi daya kambing kini sudah mencapai 70 ekor, sedangkan itik mencapai 600 ekor. Budi daya tersebut dinilai sangat menguntungkan untuk dikembangkan warga. Untuk itik misalnya, usia 40 hari dari pembelian Rp 10.000/ekor bisa dijual dengan harga Rp 14.000/ ekor. Begitu pula dengan budi daya kambing. Dengan membeli bibit kambing senilai Rp 80.000/ ekor, ditambah biaya pemeliharaan selama enam bulan sebesar Rp 48.000, setiap ekornya bisa dipasarkan dengan harga Rp 250.000. “Harga sebesar itu kalau dijual ke bandar kambing. Apalagi kalau dijual langsung kepada konsumen, bisa mencapai Rp 300.000 – Rp 350.000,” katanya. (engkos kosasih/ “GM”)**

Sumber : Galamedia Bandung